Kamis, 18 Maret 2021

Biaya Logistik Batam

 Pelabuhan berfungsi sebagai moda transportasi baik barang ataupun penumpang untuk transfer interface antar kapal pengangkut dengan moda transportasi lainnya.Pelabuhan juga sebagai tempat penyimpanan sementara baik ditempat penumpukan atau di gudang dan menangani semua data yang terkait dengan status barang yang berkegiatan yang diperlukan oleh pihak yang terkait didalamnya.Dalam kegiatan dipelabuhan terdapat kegiatan yang meliputi Pelayanan Jasa Kapal, Pelayanan Jasa Barang dan Pelayanan Jasa rupa-rupa ( Jasa Kepelabuhanan lainnya).Pelayanan Jasa Kapal meliputi Pelayanan Jasa Pemanduan, Pelayanan Jasa Penundaan, Jasa Pelayanan Labuh, Jasa Pelayanan Tambat, Pelayanan Jasa Kepil (Kepil Area Darat, Kepil Area Laut). Pelayanan Jasa Barang meliputi Pelayanan Jasa Bongkar/Muat (Dermaga), Pelayanan Jasa Chassis, Pelayanan Jasa Penumpukan gudang, Penumpukan Lapangan terbuka dan  Delivery/Receiving (Trucking, Lift On/Lift Of). Jasa Pelayanan Kepelabuhanan lainnya atau Jasa Pelayanan rupa-rupa meliputi Jasa Sewa Gudang, Jasa Sewa Alat, Jasa Sewa Ruang , Jasa Kebutuhan Air, Jasa Kebutuhan Listrik, Jasa Sampah, Jasa Sewa Bangunan, Jasa Pass Pelabuhan (Pass Orang,Alat dan Kendaraan), Jasa Iklan dan Promosi.

Pelabuhan Batam keberadaannya sudah cukup lama sekitar tahun 1970, berawal berfungsi sebagai pendukung logistic dan operasional Pertamina, Kemudian pada tahun 1973 beralih Pengelolaanya kepada Otorita Batam atau yang sekarang dikenal dengan Badan Pengusahaan Batam (BP Batam). Pelabuhan Batam sendiri dari segi fungsi pengelolaanya tidak bertujuan komersial profit ( Mencari Keuntungan dari Pengelolaan Pelabuhan) / Pelabuhan yang diusahakan tetapi sebagai Pelabuhan yang tidak diusahakan yang berfungsi sebagai pelabuhan pendukung bagi Industri –industri di Kawasan Industri Batam. Pelabuhan Batam berubah fungsi menjadi Pelabuhan yang diusahakan sekitar tahun 2019 dengan Sistem BLU Badan Pengelola Pelabuhan Batam, dan pada tahun 2020 menjadi BLU Strategis Bisnis Unit Badan Usaha Pelabuhan Batam.

Sebagai Pelabuhan yang baru lahir sebagai Badan Layanan Umum SBU yang bertujuan memberi Pelayanan tidak semata-mata mencari keuntungan asal tidak rugi menunju Pengelolaan Pelabuhan yang Komersial Profit Oriented tentunya banyak hal yang harus dibenahi, untuk restorasi menuju pengelolaan pelabuhan modrn tentunya perlu dukungan dan sinergitas semua pihak terkait.

Permasalahan Permasalahan Pelabuhan Batam menurut pandangan penulis sebagai berikut:

  1. Kapal di Batam Kebanyakan hanya kapal kecil yang berfungsi sebagai kapal pengumpan dan pengumpul Barang general kargo dan Kontainer yang dibawa ke singapura yang dalam bentuk Tonase/Kubikasi atau Box Kontainer sangat sedikit muatanya yang berupa Kapal Kayu, Kapal TB/Tongkang dan LCT dengan Gross Tone kecil.
  2. Pelabuhan di Batam memiliki Dermaga tambat yang panjang tetapi tidak memiliki tempat Penumpukan lapangan terbuka yang luas yang menyebabkan proses bongkar muat lambat karena timbulnya truck losing.
  3. Alat –Alat Kerja B/M Produktivitasnya kurang maksimal untuk penunjang Pelabuhan Modrn.
  4.  Kedalaman Kolam Bandar Kurang Memadai untuk Kapal-Kapal dengan Bobot dan Muatan yang banyak dan Besar.
  5. Budaya Kerja yang belum mengupgrade Budaya dan Pola Kerja Tata Kelola Pelabuhan Modrn.
  6. Sistem Informasi Pelabuhan (Terminal Operator Sistem) belum setara dengan Tata Kelola Pelabuhan Modrn.
  7. Tidak Banyak tersedianya Kantong-Kantong Pendukung Penumpukan baik Lahan terbuka dan Gudang diluar Pelabuhan sebagai Pendukung Pelabuhan untuk Penumpukan Kontainer dan General Kargo.
  8. Banyaknya Unsur yang terlibat dalam Proses pelayanan  ( Owner, Feeder Cargo, EMKL, PBM, PPJK,TKBM,Agen)
  9. Tidak adanya PBM dan EMKL terseleksi Perusahaan apapun bisa berusaha di Pelabuhan asal Persyaratanya terpenuhi.

Pembahasan :

Dari permasalahan –permasalahan diatas menyebabkan biaya logistik dari dan ke Batam jadi lebih mahal dibandingkan kekota lain dengan jarak tempuh sama atau lebih jauh.Selain itu sistem logistik di Batam tujuan Eksport bersifat Door to Door yang biayanya di Kendalikan Feeder Cargo Owner dalam satu paket yang saat ini dikenakan lebih tinggi dari daerah lainnya.

Hal tersebut tentunya juga mempengaruhi BCH bongkar muat (Box Crane Per Jam ) /banyaknya Box Petikemas yang dilakukan oleh satu buah crane dalam waktu 1(satu) jam serta mempengaruhi BSH ( Box Ship Per Jam ) / banyaknya box yang dibongkar /muat ke/dari kapal dalam satu jam.

Permasalahan diatas juga mempengaruhi TRT  (Turn Round Time) waktu yang diperlukan kapal dalam melakukan proses bongkar/muat mulai dari saat datang kepelabuhan hingga keluar pelabuhan jadi lama.

Solusi :

  1. Perlu adanya Kapal  ukuran besar yang melayani kegiatan bongkar muat dari Batam ke Singapura dan daerah lain dengan konsekuensi jumlah muatan harus banyak dan tersedia agar biaya operasional terpenuhi.
  2. Memperluas lahan Penumpukan Terbuka dan Gudang Penumpukan tertutup di Pelabuhan
  3.   Memodernisasi alat-alat Bongkar muat yang beroperasi di Pelabuhan
  4. Memperdalam dan memperluas Kolam Bandar
  5. Merubah budaya kerja dan Pola kerja menjadi tata kelola Pelabuhan Modrn.
  6. Pembaharuan Tekhnologi Informasi tata kelola Pelabuhan.
  7. Perbanyak Kantong –Kantong Pendukung Penumpukan di Luar pelabuhan
  8. Meyederhanakan unsur-unsur yang terlibat dalam kegiatan bongkar/muat
  9. Memulai dari satu /dua PBM terseleksi yang beroperasi sebagai percontohan.

Hal tersebut diatas merupakan beberapa cara untuk menekan biaya logistik yang selama ini masih menjadi Issue negative bagi kota Batam.melihat perkembangannya tindakan Pemerintah sangat serius untuk mengatasi hal tersebut antara lain dengan dijadikan Pelabuhan Batam sebagai Pilot Projek dalam Nasional Logistic Ekosistim dengan Batam logistic Ekosistimnya yang didalamnya terdapat Auto Gate Sistem (AGS) dan B-SIMS ( Batam Seaport Information Manajemen System). Serta diperluasnya Jalan yang terintegrasi Ke Pelabuhan. (Maskun)

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar